JAKARTA, mading.com - Raksasa teknologi Apple resmi mengumumkan lini smartphone unggulan terbarunya, iPhone 18 Pro dan iPhone 18 Pro Max, pada Kamis (10/09/2026). Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, Apple mengambil langkah berani dengan menghapus varian standar (basic) dan berfokus penuh pada pengembangan lini Pro Series untuk memenuhi tuntutan performa tinggi pengguna global.

Sektor dapur pacu mengalami lompatan teknologi masif lewat penggunaan chipset A20 Pro berfabrikasi 2 nanometer. Komponen anyar ini mengklaim peningkat performa pemrosesan grafis (GPU) hingga 40 persen serta kemampuan pemrosesan kecerdasan buatan (Neural Engine) dua kali lipat lebih tangguh. Untuk menjinakkan panas dari chipset super cepat ini, Apple membekalinya dengan sistem pendingin vapor chamber baru yang memiliki luas permukaan tiga kali lipat lebih besar dari generasi terdahulu.

Di sektor desain dan visual, tampilan Dynamic Island mengalami perombakan total menjadi lebih ringkas dan fungsional dengan kemampuan menampilkan tiga Live Activities secara bersamaan. Sementara pada sektor fotografi, kamera utama 48 MP kini dibekali teknologi variable aperture mekanis yang memberi keleluasaan bagi pengguna untuk mengatur tingkat pencahayaan dan efek depth-of-field secara manual.

Apple menghadirkan seri flagship ini dalam dua pilihan ukuran layar, yakni 6,3 inci untuk iPhone 18 Pro dan 6,9 inci untuk iPhone 18 Pro Max, yang dibalut empat pilihan warna elegan: Burgundy, Glacier, Silver, dan Black. Pemesanan awal (pre-order) global mulai dibuka pada 12 September 2026 dengan patokan harga mulai dari USD 1.199 (sekitar Rp21,1 juta) hingga varian tertinggi 2 TB seharga USD 2.499 (sekitar Rp43,9 juta).

Meski harga konversi pasar global telah dirilis, konsumen di Indonesia masih harus menunggu kepastian harga dan tanggal rilis lokal dari jaringan distributor resmi seperti iBox maupun Digimap. Pihak Apple Indonesia telah mengonfirmasi kehadiran perangkat ini di tanah air dalam waktu dekat, dengan penyesuaian tarif yang diperkirakan akan sedikit lebih tinggi akibat beban pajak impor (PPN/IMEI) serta margin distribusi lokal.