JAKARTA, mading.com - Maudy Ayunda meminta maaf setelah mendapat kritik dari netizen di platform X terkait video tentang mindfulness di tengah derasnya pemberitaan buruk, termasuk mengenai kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Kontroversi bermula setelah Maudy mengunggah video bertajuk "mindfulness in the age of bad news" di kanal YouTube miliknya pada 21 Agustus 2026.

Dalam video tersebut, Maudy mengaku kewalahan secara emosional menghadapi banyaknya informasi buruk. Ia kemudian membagikan pandangan mengenai pentingnya membatasi asupan berita untuk menjaga kondisi mental. Namun, pesan tersebut menuai kritik. Salah satu pengguna X, @pandaleezasol, bahkan menyatakan berhenti mengikuti kanal Maudy karena menilai isi video tersebut kurang peka terhadap berbagai persoalan sosial di Indonesia.

Kritik kemudian meluas. Netizen menilai ajakan untuk melakukan diet berita dapat dipandang sebagai sikap menghindari persoalan, terutama ketika berbagai krisis berdampak langsung kepada masyarakat. Isu karhutla di Kalimantan turut menjadi sorotan. Kritik juga diarahkan kepada bisnis kecantikan milik Maudy, FromThisIsland, yang produk perawatan bibirnya menggunakan lemak tengkawang dari hutan Kalimantan.

Hal itu dinilai sebagian publik menimbulkan kontradiksi karena bisnis tersebut mengambil manfaat dari sumber daya alam Kalimantan, sementara Maudy dalam videonya mengajak membatasi paparan terhadap berita buruk mengenai berbagai krisis. Latar belakang pendidikan Maudy di Oxford dan Stanford juga ikut disinggung oleh warganet yang menaruh ekspektasi lebih terhadap pandangan sosial yang disampaikannya.

Maudy Akui Ada Sudut Pandang Privilege
Maudy kemudian memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf melalui komentar yang disematkan pada video YouTube tersebut. Ia menjelaskan bahwa maksud pembahasan mengenai mindfulness bukan mengajak masyarakat menjadi apolitis atau menutup mata terhadap persoalan sosial. Menurutnya, video tersebut dibuat untuk berbagi cara menghadapi kelelahan emosional atau burnout akibat terus-menerus terpapar berita buruk.

Meski demikian, Maudy mengakui terdapat sudut pandang privilege yang belum cukup ia refleksikan dalam videonya. "Being able to step away from the news is itself a privilege. Tidak semua orang punya pilihan itu, terutama ketika apa yang terjadi berdampak langsung pada kehidupan, keluarga, pekerjaan, atau komunitasnya. Aku minta maaf karena bagian ini belum cukup aku refleksikan di videonya," lanjutnya. Maudy juga mengatakan konsep mindfulness semestinya tidak dijadikan alasan untuk menutup mata terhadap realitas sosial.

Ia mengapresiasi kritik dan masukan yang disampaikan publik terkait video tersebut. "Aku dengar dan aku hargai feedback-nya. I'm listening and learning," tulis Maudy. Kontroversi ini muncul di tengah kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan. Di Kalimantan Selatan, BKSDA sebelumnya mengonfirmasi 12 bekantan mati akibat kebakaran di habitatnya di Desa Balimau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan.