JAKARTA, mading.com - Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) BRICS 2026 di New Delhi, India, menjadi salah satu pertemuan penting di tengah perubahan peta geopolitik dan ekonomi dunia. KTT yang digelar pada 12-13 September 2026 ini menjadi momentum pertama bagi Indonesia mengikuti pertemuan BRICS sebagai anggota penuh setelah resmi bergabung dengan blok tersebut pada 2025. Mulanya BRICS hanya terdiri atas Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan. Nama BRICS sendiri merupakan singkatan dari negara-negara tersebut. Dibentuk pada 2006 dan menggelar KTT pertama pada 2009.

Dalam perkembangannya, BRICS memperluas keanggotaan dengan mengundang Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab pada 2023. Indonesia kemudian bergabung pada 2025. Dengan 11 negara anggota, BRICS kini merepresentasikan sekitar 49 persen populasi dunia dan sekitar 40 persen produk domestik bruto (PDB) global. Angka ini membuat BRICS semakin dipandang sebagai penyeimbang blok barat.

KTT tahun ini dihadiri sebagian besar pemimpin negara anggota. India sebagai tuan rumah diwakili Perdana Menteri Narendra Modi, sementara Rusia diwakili Presiden Vladimir Putin, China oleh Presiden Xi Jinping, dan Afrika Selatan oleh Presiden Cyril Ramaphosa. Brasil menjadi satu-satunya anggota awal BRICS yang tidak mengirimkan kepala negara. Presiden Luiz Inacio Lula da Silva berhalangan hadir karena agenda pemilihan daerah di dalam negeri. Brasil diwakili Menteri Luar Negeri Mauro Vieira.

Negara-negara anggota baru juga hadir dengan pejabat tingkat tinggi. Iran diwakili Presiden Masoud Pezeshkian, Mesir oleh Presiden Abdel Fattah el-Sisi, Ethiopia oleh Perdana Menteri Abiy Ahmed, dan Indonesia oleh Presiden Prabowo Subianto. Sedangkan Arab Saudi mengirim Menteri Luar Negeri Faisal bin Farhan Al Saud, sedangkan Uni Emirat Arab diwakili Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Khaled bin Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Sejumlah negara lain turut hadir dalam KTT tersebut sebagai negara mitra atau undangan, antara lain Malaysia yang diwakili Perdana Menteri Anwar Ibrahim, Filipina oleh Presiden Ferdinand Marcos Jr, Vietnam oleh Perdana Menteri Le Minh Hung, Nigeria oleh Wakil Presiden Kashim Shettima, Burundi oleh Presiden Evariste Ndayishimiye, Kuba oleh Menteri Luar Negeri Bruno Rodriguez Parrilla, Uganda oleh Wakil Presiden Jessica Alupo, Uruguay oleh Menteri Luar Negeri Mario Lubetkin, Bahrain oleh Menteri Luar Negeri Abdullatif bin Rashid Al Zayani, serta Kazakhstan oleh Presiden Kassym-Jomart Tokayev.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia Tedros Adhanom Ghebreyesus, dan Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia Ngozi Okonjo-Iweala juga menghadiri pertemuan tersebut. Kehadiran Xi Jinping cukup menyita perhatian karena Presiden China itu kembali mengunjungi India setelah tujuh tahun, ketika hubungan Beijing dan New Delhi masih tegang akibat sengketa perbatasan serta persaingan ekonomi dan strategis.

India mengusung tema "Building for Resilience, Innovation, Cooperation, and Sustainability". Para pemimpin BRICS akan membahas penguatan perdagangan, kerja sama energi, teknologi, serta pertukaran pengetahuan mengenai kecerdasan buatan (AI). Mereka juga diperkirakan membicarakan mekanisme pembayaran lintas negara, terutama di tengah sanksi Barat terhadap Rusia dan Iran. Rusia bahkan disebut akan membahas perdagangan dan penyelesaian transaksi dengan negara-negara mitra BRICS menggunakan mata uang digital.

Apa yang Dibahas?
Agenda BRICS tidak secara sederhana berarti menggantikan dolar AS. Perbedaan kondisi ekonomi di antara negara anggota membuat pembentukan sistem mata uang alternatif yang sepenuhnya menggantikan dolar masih sulit dilakukan. Selain ekonomi, perang dan konflik geopolitik juga menjadi isu besar dalam KTT kali ini. Perang Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menjadi persoalan yang sulit bagi BRICS karena posisi masing-masing anggota berbeda.

Iran merupakan anggota BRICS, tetapi Uni Emirat Arab juga anggota blok tersebut dan berada dalam posisi berseberangan dengan Teheran dalam sejumlah aspek konflik. India sendiri berupaya menjaga hubungan dengan Iran dan Israel sekaligus mempertahankan hubungan strategis dengan Amerika Serikat. Perbedaan itu membuat BRICS diperkirakan akan mencari rumusan bersama yang tidak secara langsung menyebut negara tertentu.

Perang Rusia-Ukraina juga diperkirakan masuk pembahasan. Rusia merupakan anggota utama BRICS, sementara anggota lain memiliki kepentingan berbeda terhadap konflik tersebut. Pada KTT BRICS 2025 di Rio de Janeiro, para pemimpin negara anggota tidak secara langsung mengkritik Rusia atas perang di Ukraina. Mereka justru mengecam serangan Ukraina terhadap Rusia. Tahun ini, posisi BRICS kemungkinan tetap mencari bahasa yang dapat diterima seluruh anggota.

Konflik di Timur Tengah juga menciptakan persoalan lain. Hubungan Iran dengan Arab Saudi dipengaruhi konflik antara pemerintah Yaman yang didukung Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran. Ketegangan tersebut berpotensi memengaruhi pembahasan mengenai keamanan energi dan jalur perdagangan global. Sementara itu, hubungan India dan China menjadi tantangan internal lainnya. Kedua negara memang mulai memperbaiki hubungan setelah ketegangan akibat bentrokan perbatasan pada 2020, tetapi persoalan perbatasan, defisit perdagangan, dan persaingan strategis masih belum terselesaikan.

Pertemuan tingkat tinggi ini tidak semata-mata ingin menghasilkan sikap politik yang seragam. Justru kemampuan mempertahankan kerja sama meskipun terdapat perbedaan kepentingan menjadi ujian utama organisasi tersebut. BRICS tidak dibentuk seperti NATO atau Uni Eropa yang menuntut tingkat kesatuan politik tertentu. Negara-negara anggotanya memiliki kepentingan yang berbeda, tetapi sama-sama menginginkan ruang yang lebih besar untuk menentukan kebijakan ekonomi dan politik tanpa terlalu bergantung pada satu kekuatan global.

Bagi Rusia, KTT ini menjadi kesempatan menunjukkan bahwa isolasi dari negara-negara Barat tidak berarti kehilangan hubungan dengan negara-negara besar di Global South. Bagi China, BRICS merupakan instrumen untuk memperluas pengaruhnya di negara-negara berkembang. Sementara bagi India, forum tersebut memberi ruang untuk membangun kemitraan non-Barat tanpa harus mengambil posisi anti-Barat.

Bagi Indonesia, keikutsertaan Presiden Prabowo Subianto memiliki arti tersendiri karena menjadi KTT BRICS pertama yang dihadiri Indonesia sebagai anggota penuh. Keanggotaan tersebut membuka ruang bagi Indonesia untuk terlibat lebih langsung dalam pembahasan mengenai perdagangan, energi, teknologi, pembiayaan, serta tata kelola ekonomi global. Pada akhirnya, KTT BRICS 2026 menjadi penting karena berlangsung ketika tatanan dunia sedang mengalami perubahan.