JAKARTA, mading.com - Media berbasis London, Iran International, melaporkan dugaan rencana operasi intelijen Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang disebut menyasar sejumlah jalur pelayaran dan pelabuhan di Asia, termasuk wilayah Indonesia. Dalam laporan eksklusif yang diterbitkan pada 31 Agustus 2026, Iran International menyebut Unit 4000, divisi operasi khusus Organisasi Intelijen IRGC, tengah merekrut warga non-Iran untuk menjalankan operasi di luar negeri. Laporan itu mengklaim informasi tersebut diperoleh dari sejumlah sumber yang mengetahui rencana operasi.

Menurut Iran International, tiga orang diduga telah direkrut melalui ulama Syiah di Thailand dan Indonesia. Mereka disebut mulai merencanakan operasi di Selat Malaka, Selat Bangka, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta, serta Pelabuhan Ningbo-Zhoushan dan Shanghai di China. Iran International menyebut operasi tersebut berada di bawah pengawasan Brigadir Jenderal Rahman Moghaddam, yang disebut sebagai komandan Unit 4000.

Laporan itu juga menyatakan Moghaddam sebelumnya diberitakan tewas dalam serangan Israel di Teheran pada 3 Maret 2026. Namun, berdasarkan informasi baru yang diperoleh Iran International, laporan mengenai kematian Moghaddam disebut keliru. Media tersebut mengklaim Moghaddam selamat dan kini mengawasi fase baru operasi maritim Unit 4000 di luar negeri.

Iran International juga mengaitkan dugaan rencana tersebut dengan pernyataan pejabat senior Iran. Pada Juni lalu, Mohsen Rezaei, yang saat ini menjabat sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, mengatakan kepada CNN bahwa Iran dapat memperluas perang apabila konflik berlanjut dan blokade laut terhadap Iran tidak dicabut. "Jika perang berlanjut dan blokade laut tidak dicabut, kami akan membawa perang ke Samudra Hindia, Selat Bab al-Mandab, Laut Merah, dan Laut Mediterania," kata Rezaei, sebagaimana dikutip Iran International.

Meski demikian, klaim mengenai rencana serangan terhadap Tanjung Priok dan jalur pelayaran Indonesia tersebut merupakan laporan berbasis sumber yang dikutip Iran International. Belum ada informasi independen yang menunjukkan bahwa serangan tersebut benar-benar akan dilakukan.

Kucuran Dana dari Saudi
Iran International merupakan jaringan media berbahasa Persia yang berbasis di London dan diluncurkan pada 2017. Media tersebut dikenal memiliki garis editorial yang sangat kritis terhadap pemerintahan Republik Islam Iran dan banyak menyoroti kelompok oposisi serta isu politik di Iran. Media tersebut secara resmi dimiliki Volant Media UK Ltd, perusahaan swasta yang berbasis di London. Iran International selama ini membantah memiliki hubungan dengan pemerintah Saudi maupun menerima pendanaan negara Saudi. Pihak Volant juga menyatakan bahwa operasional editorialnya independen.

Namun, hubungan finansial media tersebut dengan kepentingan Saudi pernah menjadi sorotan serius. Pada 2018, The Guardian melaporkan berdasarkan dokumen dan sumber yang mereka peroleh bahwa Iran International diduga memperoleh pendanaan sekitar US$250 juta dari Arab Saudi untuk membantu peluncurannya. Laporan The Guardian juga mengaitkan struktur pendanaan tersebut dengan perusahaan offshore serta seorang pengusaha Arab Saudi yang memiliki hubungan dekat dengan Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman.

The Guardian mencatat Volant Media mengalami kerugian sekitar £26 juta pada 2017. Besarnya biaya operasional Iran International, termasuk kantor dan gaji karyawan, kemudian menjadi salah satu dasar yang mendorong munculnya pertanyaan mengenai sumber pendanaan media tersebut. Iran International membantah laporan tersebut. Dalam tanggapannya, media itu menyatakan dimiliki individu swasta dan tidak memiliki hubungan dengan Mohammed bin Salman, pemerintah Saudi, maupun pemerintah mana pun.

Hubungan dengan kepentingan Saudi kembali menjadi perhatian dalam laporan Financial Times pada 2026. Laporan tersebut menyebut perusahaan induk Iran International, Volant Media UK, memperoleh penghapusan utang sekitar £650 juta melalui skema debt-for-equity swap pada akhir 2025. Financial Times melaporkan bahwa dokumen perusahaan menunjukkan perpindahan kepemilikan saham Volant kepada perusahaan offshore Info-Cast Cayman Limited.

Perusahaan tersebut disebut dikendalikan Saleh Hussain Aldowais, yang memiliki nama sama dengan eksekutif Saudi Research and Media Group (SRMG), kelompok media terbesar yang didukung negara Saudi. Meski demikian, Volant membantah menerima pendanaan dari pemerintah Saudi. Perusahaan menyatakan operasionalnya didukung konsorsium investor swasta dan menyebut transaksi tersebut merupakan restrukturisasi utang untuk memperkuat neraca perusahaan, bukan suntikan dana baru.

Iran International juga pernah menjadi perhatian regulator media Inggris, Office of Communications (Ofcom). Pada 2018, Ofcom menyelidiki program Iran International yang menampilkan wawancara dengan Yacoub Hor al-Tostari, juru bicara kelompok separatis yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap parade militer di Ahvaz, Iran.

Investigasi tersebut dilakukan setelah muncul sejumlah pengaduan terkait wawancara yang dinilai memberikan ruang kepada tokoh yang mendukung serangan tersebut. Namun, pada Maret 2019 Ofcom memutuskan Iran International tidak melanggar aturan penyiaran. Regulator menilai wawancara tersebut disertai konteks yang memadai dan presenter secara jelas menantang pandangan narasumber.