Jakarta, mading.online - Mohammad Zaki Ubaidillah atau Ubed berdiri di titik paling menentukan dalam perjalanan tim bulu tangkis beregu putra Indonesia pada Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Usianya baru 19 tahun, tetapi malam itu ia memikul tanggung jawab besar: memenangkan partai kelima untuk memastikan Indonesia merebut medali emas.

Indonesia dan China bermain imbang 2-2 dalam final yang berlangsung di Ichinomiya, Jepang. Empat pertandingan telah dimainkan, tetapi belum ada yang mampu memastikan kemenangan. Harapan Indonesia kemudian berada di tangan Ubed yang harus menghadapi tunggal putra China, Weng Hongyang, pemain berusia 27 tahun.

Sesaat sebelum memasuki lapangan, Ubed melakukan sesuatu yang sederhana. Dari bangku pemain, ia mengambil telepon dan menghubungi kedua orang tuanya di Sampang, Madura.

Ia tidak menelepon untuk membicarakan strategi. Ia hanya meminta doa.

“Sudah telepon orang tua di bench itu. Minta doa dari mereka, karena saya merasa tegang,” kata Ubed seusai pertandingan.

Bagi Ubed, menelepon orang tua sebelum bertanding bukan kebiasaan yang baru muncul pada malam final Asian Games. Itu adalah ritual yang telah menemaninya sejak masih kecil.

Jauh sebelum suara ayah dan ibunya terdengar dari telepon di bangku pemain di Jepang, panggilan dari rumah sudah menjadi penguat bagi Ubed ketika ia harus menjalani kehidupan sebagai atlet muda, jauh dari keluarga.

Jauh dari Rumah Sejak Kecil

Ubed lahir di Sampang, Madura, 26 Juni 2007. Kecintaannya terhadap bulu tangkis pertama kali tumbuh dari sang ayah, Bambang Suharyadi.

Dilansir Mojokco, Bambang yang juga menyukai bulu tangkis menjadi pelatih pertama Ubed. Secara otodidak, ia mengajari putranya bermain raket dan kemudian mengikutsertakannya dalam berbagai turnamen lokal.

Namun perjalanan Ubed tidak langsung menuju panggung besar.

Sejak duduk di bangku sekolah dasar, ia mulai meninggalkan Madura untuk mencari tempat latihan yang lebih baik. Ubed pernah bergabung dengan PB Rahmat di Pati, kemudian berpindah ke sejumlah klub di Gresik, Surabaya, dan Klaten.

Pada akhir 2019, ketika usianya sekitar 12 tahun, ia lolos seleksi masuk PB Djarum di Kudus melalui jalur prestasi.

Keputusan itu menjadi salah satu titik penting dalam hidupnya. Untuk mengejar cita-cita menjadi pemain bulu tangkis, Ubed harus tinggal jauh dari keluarga.

Bagi seorang anak yang masih berusia belasan tahun, kehidupan di asrama bukan sesuatu yang mudah.

Haryanti, ibu Ubed, masih mengingat bagaimana putranya kerap menangis ketika menelepon rumah pada masa-masa awal di asrama.

“Latihannya kan berat, jadi kangen ke orang tuanya, apalagi masih kecil,” kata Haryanti.

Pertemuan dengan keluarga pun tidak bisa dilakukan sesering anak-anak seusianya. Ubed hanya sesekali pulang ke Sampang. Dalam banyak kesempatan, telepon dan video call menjadi penghubung antara dirinya di Kudus dan keluarganya di Madura.

Bambang memahami bahwa perjalanan menjadi atlet tidak hanya membutuhkan kemampuan teknis.

Ia selalu meyakinkan Ubed bahwa berada di PB Djarum bukan semata-mata untuk belajar memukul kok. Ada karakter dan mental yang juga harus dibentuk.

“Bukan hanya urusan teknik bermain bulu tangkis saja yang dilatih, tapi juga karakter dan mentalnya yang dibentuk,” kata Bambang.

Pada awal 2026, Ubed kembali menceritakan bagaimana rasa rindu pernah membuatnya menangis di asrama. Telepon kepada orang tua menjadi cara untuk mengobati kerinduan itu.

Namun, ia tidak ingin berhenti.

“Nggak mungkin aku berhenti,” katanya.

Kalimat sederhana itu menggambarkan pilihan yang telah dibuatnya sejak kecil.

Sempat Lebih Memilih Bermain Layangan

Perjalanan Ubed bahkan pernah berada di persimpangan yang sederhana.

Haryanti mengingat putranya sempat ingin berhenti bermain bulu tangkis. Ketika itu, Ubed justru lebih senang bermain layangan.

Keluarga kemudian membujuk dan mengarahkannya kembali ke lapangan.

Tidak ada yang tahu bahwa keputusan kecil tersebut kelak membawa Ubed ke panggung olahraga terbesar di Asia.

Setelah bergabung dengan PB Djarum, perkembangan Ubed berlangsung bertahap. Ia mendapatkan pembinaan yang lebih terstruktur, berkompetisi di berbagai ajang, dan mulai menunjukkan kemampuan untuk bersaing di level nasional maupun internasional.

Pada PON XXI Aceh-Sumut 2024, Ubed menjadi bagian dari tim Jawa Tengah yang meraih medali emas beregu putra. Ia juga meraih medali perak dari nomor tunggal putra.

Namun, jalan menuju Pelatnas PBSI tidak selalu mulus.

Pada Seleksi Nasional awal 2024, Ubed terhenti di perempat final. Kegagalan tersebut sempat membuatnya berpikir tentang masa depan kariernya.

Apa yang akan terjadi jika ia tidak berhasil masuk pelatnas?

Pertanyaan itu akhirnya terjawab pada penghujung tahun. Ubed mendapat kesempatan masuk Pelatnas PBSI dan bergabung dengan jajaran utama.

Dari sana, tantangannya berubah.

Ia tidak lagi hanya mengejar prestasi junior. Ia harus mulai beradaptasi dengan persaingan pemain senior dan tekanan pertandingan internasional.

Dari Juara Asia Junior ke Panggung Senior

Tahun 2025 menjadi periode penting dalam perkembangan Ubed.

Di Kejuaraan Asia Junior yang berlangsung di Solo, ia meraih gelar juara setelah mengalahkan wakil China, Liu Yang Ming Yu, di partai final.

Beberapa bulan kemudian, keduanya kembali bertemu pada final Kejuaraan Dunia Junior. Kali ini Ubed harus menerima kekalahan.

Ia mengakui bahwa pikirannya tidak cukup tenang. Keinginannya untuk menjadi juara justru membuat tekanan semakin besar.

Kekalahan tersebut menjadi pelajaran.

Ubed menyadari bahwa persaingan di level senior membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan teknis dan fisik. Kemampuan mengendalikan emosi dan menjaga ketenangan dalam situasi sulit menjadi bagian yang tidak kalah penting.

Pelajaran itu kemudian mulai terlihat ketika ia memasuki persaingan senior.

Pada awal 2026, Ubed menjuarai Thailand Masters, turnamen BWF World Tour Super 300. Ia mengalahkan pemain tuan rumah Panitchaphon Teeraratsakul dalam pertandingan tiga gim.

Dukungan penonton kepada lawannya justru membuat Ubed semakin termotivasi.

Kemenangan tersebut ia persembahkan untuk orang tua, keluarga, PBSI, PB Djarum, Indonesia dan semua pihak yang telah mendukung perjalanan kariernya.

Kemampuan Ubed melewati situasi sulit kembali mendapat ujian beberapa bulan kemudian.

Kali ini panggungnya jauh lebih besar.
Asian Games.

Ketika Indonesia Membutuhkan Satu Poin Terakhir

Final beregu putra Asian Games mempertemukan Indonesia dengan China.

Pada dua pertandingan pertama, Indonesia berada dalam posisi sulit. Jonatan Christie kalah dari Shi Yu Qi, kemudian Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri harus mengakui keunggulan Liang Wei Keng/Wang Chang.

Indonesia tertinggal 0-2.

Namun pertandingan belum berakhir.

Alwi Farhan kemudian membuka jalan kebangkitan dengan mengalahkan Li Shi Feng. Setelah itu, Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin menyumbangkan poin kedua untuk Indonesia.

Kedudukan berubah menjadi 2-2. Satu pertandingan tersisa. Satu kemenangan akan memberikan emas.

Dan pemain yang berdiri di lapangan adalah Ubed.

Sebelum bertanding, ia kembali menelepon orang tuanya.

Setelah panggilan itu berakhir, ia memasuki lapangan menghadapi Weng Hongyang. Tekanan langsung terasa sejak awal.

Ubed sempat tertinggal 0-4. Weng mampu menjaga keunggulan hingga interval gim pertama dengan skor 11-8.

Namun Ubed perlahan menemukan ritmenya. Pertandingan kemudian memasuki fase paling menegangkan ketika Weng mencapai game point dalam kedudukan 20-16.

Empat poin lagi.

Jika satu poin saja jatuh ke tangan Weng, gim pertama menjadi milik China. Tetapi Ubed tidak berhenti.

Ia menyelamatkan empat game point dan mencetak poin demi poin hingga berbalik unggul 21-20. Weng kembali menyamakan kedudukan menjadi 21-21.

Dua poin berikutnya menjadi milik Ubed. Gim pertama berakhir 23-21.

Dari posisi 16-20, Ubed berhasil merebut tujuh dari sembilan poin terakhir untuk membalikkan keadaan.

Momentum itu kemudian dibawa ke gim kedua.

Ubed tampil lebih tenang. Ia unggul 11-5 pada interval dan terus menjaga jarak hingga akhir pertandingan.

Weng berusaha mengejar, tetapi Ubed tidak memberikan kesempatan untuk kembali membangun momentum.

Skor akhir gim kedua 21-13. Dalam waktu 51 menit, Ubed menyelesaikan tugasnya.

Indonesia menang 3-2 atas China. Emas menjadi milik Indonesia.

Dari Suara di Telepon hingga Suara Sorak di Arena

Setelah pertandingan berakhir, rekan-rekan setim langsung menghampiri Ubed. Pelukan dan sorakan memenuhi lapangan.

Kemenangan itu memang tercatat atas namanya, tetapi emas tersebut merupakan hasil perjuangan seluruh tim.

Indonesia sempat tertinggal 0-2. Alwi membangkitkan harapan. Leo dan Daniel menyamakan kedudukan. Dan pada partai terakhir, Ubed menyelesaikan pekerjaan.

Ia mengatakan dukungan rekan setim dan pelatih dari pinggir lapangan membuatnya terus berjuang. Mereka saling meyakinkan bahwa pertandingan belum selesai meskipun Indonesia sempat berada dalam posisi tertinggal.

Ubed tidak ingin mengecewakan tim yang telah membawanya sampai ke partai terakhir.

Namun di balik kemenangan itu ada perjalanan yang jauh lebih panjang daripada lima pertandingan di arena Asian Games.

Ada seorang ayah yang pertama kali mengajarinya memegang raket.

Ada seorang ibu yang harus terbiasa mendengar suara anaknya menangis dari balik telepon karena rindu rumah.

Ada masa ketika Ubed lebih memilih bermain layangan daripada berlatih.

Ada perjalanan dari Sampang ke Pati, Gresik, Surabaya, Klaten, hingga Kudus.

Ada kegagalan, kekalahan, keraguan, dan kesempatan kedua dan ada satu kebiasaan yang tidak pernah benar-benar berubah.

Setiap kali tekanan pertandingan datang, Ubed mencari suara kedua orang tuanya.

Setahun sebelum malam final itu, suara tersebut masih menjadi pelipur ketika ia menangis karena rindu rumah di asrama.

Di Ichinomiya, Jepang, suara yang sama menjadi doa sebelum pertandingan terbesar dalam karier mudanya.

Setelah menutup telepon, Ubed masuk ke lapangan.

Dua gim kemudian, ia keluar sebagai penentu emas Indonesia.

Bagi seorang anak dari Sampang, perjalanan itu mungkin baru memasuki babak berikutnya.

Tetapi malam itu, satu hal telah terbukti: doa yang dulu menemaninya melewati rasa rindu di asrama, akhirnya ikut mengantarnya ke podium tertinggi Asian Games.