NASIONAL
Vivian Balakrishnan Sambangi Jakarta, Ketegangan Gas dan Karhutla Jadi Latar Pertemuan ?
Ringkasan Berita
Jakarta, mading.online - Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan berkunjung ke Indonesia dan diterima langsung oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arrmanatha C. Nasir di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa Sore (27/10/2026).
Jakarta, mading.online - Menteri Luar Negeri Singapura Vivian Balakrishnan berkunjung ke Indonesia dan diterima langsung oleh Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Arrmanatha C. Nasir di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri RI, Jakarta, Selasa Sore (27/10/2026).
Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya sorotan terhadap hubungan kedua negara, menyusul pemangkasan pasokan gas alam Indonesia ke Singapura dan persoalan kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tampak di lokasi, Arrmanatha dan Vivian tiba secara bersamaan di Gedung Pancasila pada pukul 15.35 WIB. Keduanya dijadwalkan menggelar pertemuan terbatas selama sekitar 30 menit sebelum menyampaikan keterangan resmi kepada awak media.
Hingga pertemuan berlangsung, belum ada penjelasan terperinci mengenai agenda pembahasan kedua menteri. Namun, pertemuan bilateral tersebut menjadi momentum penting untuk membahas kepentingan strategis kedua negara, terutama terkait kerja sama energi dan penanganan dampak lingkungan lintas batas.
Dilansir CNBC, Rencana pertemuan ini menjadi perhatian setelah Indonesia memangkas pasokan gas alam melalui pipa ke Singapura sekitar 8 persen mulai Sabtu. Kebijakan tersebut memicu perhatian di tengah ketergantungan Singapura terhadap pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Menanggapi perkembangan itu, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong berharap seluruh pihak tetap menjalankan kewajiban sesuai kesepakatan kontrak.
“Kami berharap semua pihak yang menandatangani kontrak akan memenuhi komitmen mereka,” ujar Wong pada Minggu, seperti dikutip Reuters.
Selain persoalan energi, kabut asap akibat karhutla di Indonesia turut menjadi perhatian negara-negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia. Kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan tersebut menyebabkan pencemaran udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Isu ini juga memunculkan perbedaan pandangan di antara pejabat kedua negara. Menteri Senior Singapura K. Shanmugam menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan seorang pejabat Indonesia yang menyebut hutan Indonesia menyediakan oksigen bagi Singapura dan Malaysia.
“Tidak pantas mengatakan hal tersebut ketika seluruh kawasan ini menderita akibat perilaku buruk perusahaan-perusahaan yang melanggar peraturan,” ujar Shanmugam. Ia menambahkan bahwa masyarakat Indonesia sendiri menjadi pihak yang paling terdampak akibat kebakaran tersebut.
Meski demikian, Singapura sejauh ini tidak secara langsung melontarkan kritik terhadap pemerintah Indonesia terkait kabut asap. Negara tersebut juga telah menawarkan bantuan serta mengirimkan pemberitahuan kepada sejumlah perusahaan Indonesia yang dinilai bertanggung jawab atas kebakaran.
Di sisi lain, diplomat senior Singapura Bilahari Kausikan menilai pemangkasan pasokan gas oleh Indonesia sebagai bentuk “upaya intimidasi”. Ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang yang justru merugikan Indonesia.
Persoalan pasokan gas menjadi isu strategis bagi Singapura, yang mengandalkan gas alam untuk sekitar 95 persen kebutuhan listriknya. Meski demikian, pemangkasan pasokan dari Indonesia disebut mencakup kurang dari 2 persen dari total permintaan gas harian negara tersebut.
Pertemuan Arrmanatha dan Vivian pun berlangsung di tengah kepentingan yang saling beririsan, mulai dari keberlanjutan pasokan energi hingga dampak karhutla terhadap kualitas udara regional. Hasil pembicaraan kedua menteri akan menjadi perhatian dalam melihat arah hubungan bilateral Indonesia-Singapura, terutama dalam menjaga kerja sama di tengah perbedaan kepentingan kedua negara.
Pertemuan ini berlangsung di tengah meningkatnya sorotan terhadap hubungan kedua negara, menyusul pemangkasan pasokan gas alam Indonesia ke Singapura dan persoalan kabut asap lintas batas akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Tampak di lokasi, Arrmanatha dan Vivian tiba secara bersamaan di Gedung Pancasila pada pukul 15.35 WIB. Keduanya dijadwalkan menggelar pertemuan terbatas selama sekitar 30 menit sebelum menyampaikan keterangan resmi kepada awak media.
Hingga pertemuan berlangsung, belum ada penjelasan terperinci mengenai agenda pembahasan kedua menteri. Namun, pertemuan bilateral tersebut menjadi momentum penting untuk membahas kepentingan strategis kedua negara, terutama terkait kerja sama energi dan penanganan dampak lingkungan lintas batas.
Dilansir CNBC, Rencana pertemuan ini menjadi perhatian setelah Indonesia memangkas pasokan gas alam melalui pipa ke Singapura sekitar 8 persen mulai Sabtu. Kebijakan tersebut memicu perhatian di tengah ketergantungan Singapura terhadap pasokan gas untuk memenuhi kebutuhan energinya.
Menanggapi perkembangan itu, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong berharap seluruh pihak tetap menjalankan kewajiban sesuai kesepakatan kontrak.
“Kami berharap semua pihak yang menandatangani kontrak akan memenuhi komitmen mereka,” ujar Wong pada Minggu, seperti dikutip Reuters.
Selain persoalan energi, kabut asap akibat karhutla di Indonesia turut menjadi perhatian negara-negara tetangga, termasuk Singapura dan Malaysia. Kebakaran yang berlangsung selama berbulan-bulan tersebut menyebabkan pencemaran udara dan meningkatkan risiko gangguan pernapasan bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Isu ini juga memunculkan perbedaan pandangan di antara pejabat kedua negara. Menteri Senior Singapura K. Shanmugam menyampaikan kekecewaannya terhadap pernyataan seorang pejabat Indonesia yang menyebut hutan Indonesia menyediakan oksigen bagi Singapura dan Malaysia.
“Tidak pantas mengatakan hal tersebut ketika seluruh kawasan ini menderita akibat perilaku buruk perusahaan-perusahaan yang melanggar peraturan,” ujar Shanmugam. Ia menambahkan bahwa masyarakat Indonesia sendiri menjadi pihak yang paling terdampak akibat kebakaran tersebut.
Meski demikian, Singapura sejauh ini tidak secara langsung melontarkan kritik terhadap pemerintah Indonesia terkait kabut asap. Negara tersebut juga telah menawarkan bantuan serta mengirimkan pemberitahuan kepada sejumlah perusahaan Indonesia yang dinilai bertanggung jawab atas kebakaran.
Di sisi lain, diplomat senior Singapura Bilahari Kausikan menilai pemangkasan pasokan gas oleh Indonesia sebagai bentuk “upaya intimidasi”. Ia memperingatkan bahwa kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang yang justru merugikan Indonesia.
Persoalan pasokan gas menjadi isu strategis bagi Singapura, yang mengandalkan gas alam untuk sekitar 95 persen kebutuhan listriknya. Meski demikian, pemangkasan pasokan dari Indonesia disebut mencakup kurang dari 2 persen dari total permintaan gas harian negara tersebut.
Pertemuan Arrmanatha dan Vivian pun berlangsung di tengah kepentingan yang saling beririsan, mulai dari keberlanjutan pasokan energi hingga dampak karhutla terhadap kualitas udara regional. Hasil pembicaraan kedua menteri akan menjadi perhatian dalam melihat arah hubungan bilateral Indonesia-Singapura, terutama dalam menjaga kerja sama di tengah perbedaan kepentingan kedua negara.