HUMANIORA
Demo PMII-GMKI di Depan Istana Bogor Ricuh, Mahasiswa Coba Terobos Barikade Polisi
Ringkasan Berita
Bogor, mading.online - Aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kota Bogor di depan Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, diwarnai kericuhan. Massa aksi terlibat aksi saling dorong dengan aparat setelah berupaya menerobos barikade pengamanan untuk mendekati pintu gerbang Istana.
Bogor, mading.online - Aksi unjuk rasa puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kota Bogor di depan Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, diwarnai kericuhan. Massa aksi terlibat aksi saling dorong dengan aparat setelah berupaya menerobos barikade pengamanan untuk mendekati pintu gerbang Istana.
Situasi sempat memanas ketika mahasiswa memaksakan diri melewati barisan personel Pasukan Pengendalian Massa (Dalmas) Polresta Bogor Kota. Ketegangan semakin meningkat setelah massa membakar ban bekas di tengah jalan hingga menimbulkan kepulan asap pekat yang mengganggu arus lalu lintas di sekitar kawasan Istana.
Meski sempat terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas, aparat kepolisian akhirnya berhasil mengendalikan situasi. Ketegangan mereda dan kondisi di sekitar lokasi aksi kembali kondusif.
Dilansir Harnasid, Koordinator aksi, Toni Alfazri, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan bentuk pelaksanaan fungsi kontrol sosial mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Menurutnya, terdapat lima poin tuntutan utama yang disuarakan massa aksi dan ditujukan kepada pemerintah pusat.
“Dalam aksi ini kami membawa lima poin tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah pusat,” ujar Toni Kamis, (29/10/2026).
Berdasarkan keterangan pers massa aksi, lima tuntutan tersebut meliputi:
1. Penetapan Karhutla dan Pencabutan Izin Korporasi
Mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sebagai bencana nasional serta mencabut izin operasional korporasi yang terbukti terlibat dalam pembakaran dan perusakan lingkungan.
2. Evaluasi Kebijakan Ekonomi
Menuntut pemerintah menghentikan kebijakan ekonomi yang dinilai semakin memberatkan beban hidup masyarakat.
3. Pendidikan Gratis dan Berkelanjutan
Menolak segala bentuk komersialisasi pendidikan serta mendorong terwujudnya sistem pendidikan gratis yang berkelanjutan.
4. Evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN)
Mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai berpotensi merampas ruang hidup masyarakat.
5. Penegakan Demokrasi dan Pemberantasan Korupsi
Menuntut penguatan nilai-nilai demokrasi, penghentian tindakan represif terhadap masyarakat, serta penindakan kasus korupsi secara tegas tanpa pandang bulu.
Massa mahasiswa tetap bertahan di lokasi hingga malam hari dengan pengawalan ketat personel Polresta Bogor Kota. Secara bergantian, mahasiswa menyampaikan orasi dan membacakan tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah.
Setelah seluruh rangkaian penyampaian aspirasi selesai, massa akhirnya membubarkan diri secara tertib. Meski demikian, koordinator aksi mengindikasikan bahwa demonstrasi tersebut belum berakhir.
Aksi penyampaian aspirasi itu rencananya akan kembali dilanjutkan secara bergelombang hingga tiga hari ke depan sebagai bentuk pengawalan terhadap lima tuntutan yang telah disampaikan.
Situasi sempat memanas ketika mahasiswa memaksakan diri melewati barisan personel Pasukan Pengendalian Massa (Dalmas) Polresta Bogor Kota. Ketegangan semakin meningkat setelah massa membakar ban bekas di tengah jalan hingga menimbulkan kepulan asap pekat yang mengganggu arus lalu lintas di sekitar kawasan Istana.
Meski sempat terjadi aksi saling dorong antara mahasiswa dan petugas, aparat kepolisian akhirnya berhasil mengendalikan situasi. Ketegangan mereda dan kondisi di sekitar lokasi aksi kembali kondusif.
Dilansir Harnasid, Koordinator aksi, Toni Alfazri, mengatakan demonstrasi tersebut merupakan bentuk pelaksanaan fungsi kontrol sosial mahasiswa terhadap sejumlah kebijakan pemerintah, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Menurutnya, terdapat lima poin tuntutan utama yang disuarakan massa aksi dan ditujukan kepada pemerintah pusat.
“Dalam aksi ini kami membawa lima poin tuntutan utama yang ditujukan kepada pemerintah pusat,” ujar Toni Kamis, (29/10/2026).
Berdasarkan keterangan pers massa aksi, lima tuntutan tersebut meliputi:
1. Penetapan Karhutla dan Pencabutan Izin Korporasi
Mendesak pemerintah menetapkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) sebagai bencana nasional serta mencabut izin operasional korporasi yang terbukti terlibat dalam pembakaran dan perusakan lingkungan.
2. Evaluasi Kebijakan Ekonomi
Menuntut pemerintah menghentikan kebijakan ekonomi yang dinilai semakin memberatkan beban hidup masyarakat.
3. Pendidikan Gratis dan Berkelanjutan
Menolak segala bentuk komersialisasi pendidikan serta mendorong terwujudnya sistem pendidikan gratis yang berkelanjutan.
4. Evaluasi Proyek Strategis Nasional (PSN)
Mendesak pemerintah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dinilai berpotensi merampas ruang hidup masyarakat.
5. Penegakan Demokrasi dan Pemberantasan Korupsi
Menuntut penguatan nilai-nilai demokrasi, penghentian tindakan represif terhadap masyarakat, serta penindakan kasus korupsi secara tegas tanpa pandang bulu.
Massa mahasiswa tetap bertahan di lokasi hingga malam hari dengan pengawalan ketat personel Polresta Bogor Kota. Secara bergantian, mahasiswa menyampaikan orasi dan membacakan tuntutan yang ditujukan kepada pemerintah.
Setelah seluruh rangkaian penyampaian aspirasi selesai, massa akhirnya membubarkan diri secara tertib. Meski demikian, koordinator aksi mengindikasikan bahwa demonstrasi tersebut belum berakhir.
Aksi penyampaian aspirasi itu rencananya akan kembali dilanjutkan secara bergelombang hingga tiga hari ke depan sebagai bentuk pengawalan terhadap lima tuntutan yang telah disampaikan.